Kado Terpahit

Postingan kali ini saya dedikasikan untuk pakdhe saya tercinta, Alm. Bambang Rudjito.

Tanggal 5 Mei 2012, pukul 02.45 dini hari di Ruang ICU Rumah Sakit St. Elisabeth, Pakdhe saya tercinta dipanggil oleh Sang Maha Kuasa kembali kepada-Nya. Tepat 5 hari setelah saya merayakan ulang tahun ke 18. Ini benar-benar menjadi kado terpahit sepanjang saya hidup di dunia. Saya tidak menyangka beliau akan pergi secepat ini. Rasa sedih, kehilangan, semua jadi satu. Saya merasa belum siap, saya belum sempat membalas semua kebaikan yang pakdhe berikan dari saya kecil hingga sudah menjadi seorang remaja yang hampir dewasa. Pakdhe belum bisa melihat saya lulus dari SMA, menjadi sarjana, menikah, bekerja, mempunyai anak, dan masih banyak hal tentang kehidupan saya yang pakdhe tidak akan pernah melihatnya. Maafkan saya pakdhe, saya hanya bisa membalas kebaikan pakdhe dengan doa. Saya belum bisa menjadi seorang ponakan yang bisa membanggakan pakdhe, bukan hanya menyusahkan dan selalu meminta saja.

Pakdhe meninggal karena komplikasi, dari jantung sampai paru-paru. Hal yang menyebabkan pakdhe meninggalkan kami di usia ke 55 selain kehendak dari-Nya adalah karena rokok. Ya.. kebiasaan pakdhe dari usia muda adalah kesukaan beliau terhadap rokok. Saya masih ingat, sering dulu sewaktu saya masih kecil, beliau sering meminta saya untuk membeli rokok di warung, dan sisa dari uang rokok, diberikan kepada saya sebagai uang jajan. Pakdhe begitu loyal terhadap saya, apapun itu, terutama dalam hal uang dan makanan. Saya jarang sekali meminta uang kecuali saat kepepet. Tak peduli hari apapun dan kapanpun, pakdhe sering memberi saya uang jajan. Dilihat dari nominalnya pun beragam, dari ribuan, puluhan ribu pun pernah diberikannya. Pakdhe suka sekali mentraktir makan keluarga saya khususnya saya dan adik. Biasanya saat pakdhe mampir ke rumah di sela-sela waktu istirahat kantor, beliau mengajak kami mencari makan siang. Tempat makan favorit pakdhe itu antara lain Soto kudus Mbak Lin dekat RS. St. Elisabeth Semarang dan Ayam Goreng Pak To Sultan Agung Semarang.

Saking cintanya beliau terhadap masakan Soto Kudus Mbak Lin, di hari-hari terakhir beliau, dalam kondisi terbilang masih down, beliau sempat berimajinasi / ngelindur sedang makan disana. Ini benar-benar membuat saya sedih, saya berjanji setelah pakdhe sembuh, kami akan makan disana. Tapi kenyataan berkata lain, pakdhe tidak akan pernah merasakan Soto itu lagi.. selamanya.

Sebenarnya, Pakdhe sudah berusaha untuk berhenti merokok di usia 53, dua tahun sebelum beliau dipanggil oleh-Nya. Tapi apa mau dikata, semuanya sedikit terlambat, zat-zat berbahaya yang dikonsumsi pakdhe selama berpuluh-puluh tahun terlanjur menggerogoti organ penting dalam tubuhnya. Semua pengobatan dari pengobatan di rumah sakit sampai pengobatan alternatif telah dicoba, tapi hasilnya nihil. Terhitung, beliau telah keluar masuk rumah sakit selama 4x. Di RS. Roemani 2x dan RS. St. Elisabeth 2x. Dan anehnya, sebelum beliau masuk rumah sakit, saya selalu bermimpi gigi saya copot. Dan itu terus menerus terjadi sampai beliau masuk rumah sakit yang ke 4 kali, untuk terakhir kalinya. Saya berusaha untuk positif thinking, mungkin itu cuma bunga mimpi. Saya juga menceritakan mimpi saya tersebut kepada teman, tapi perasaan dalam hati memang benar-benar merasa sesuatu yang aneh dan mengganjal.

Sampai sekarang, detik ini pun, saya masih merasa sangat kehilangan sosok beliau. Untuk menulis postingan ini saja, saya menulis dengan keadaan sedang menangis. Flashback kenangan dengan beliau, membuat saya merasa pakdhe itu masih ada, pakdhe belum pergi untuk selamanya. Kapanpun dan dimanapun, entah di rumah atau sehabis solat di kampus, saya masih merasa sedih dan kehilangan, bahkan saya pernah hampir menangis di mushola kampus. Melewati depan RS. Roemani / Elisabeth, sayapun juga bisa menangis. Bahkan untuk membuka profil facebook pakdhe, saya tidak berani. Karena sampai kapanpun, kenangan akan beliau tak akan pernah hilang.

Kehilangan beliau merupakan awal dari sebuah proses pembelajaran kehidupan menuju yang lebih baik, khususnya untuk saya. Saya adalah tipikal orang yang mudah down dan menangis. Beberapa hari setelah beliau pergi, saya masih suka menangis sendiri di kamar. Sampai mengerjakan soal SNMPTN pun saya tidak konsen sama sekali. Di sisi lain, kami sekeluarga diuji oleh-Nya, agar kami senantiasa beriman kepada Allah, rajin beribadah dan tentunya ikhlas untuk menerima cobaan apapun.

Dan untuk semua teman-teman semua yang mungkin mempunyai orang yang dicintai, apakah itu keluarga, teman ataupun pacar, bahkan diri kalian sendiri. tolong beri pengertian bahwa merokok itu sangatlah berbahaya. Merokok bisa saja membuat umur lebih pendek bahkan merusak organ dalam. Efek yang akan dirasakan tidak terjadi di usia muda, tetapi disaat kita beranjak tua. Dan di akhir kata, jaga seutuhnya orang yang kalian sayang dan cintai, karena kita tak akan sepenuhnya dan selamanya bersama mereka. And for my beloved uncle in other world, we love you and we miss you. Selamat jalan, tenang di alam sana bersama-Nya ya.. Pakdhe. :')

You Might Also Like

0 komentar